• UA Prima
  • Judul atasss
  • Majlis Guru SDIT UA

Selamat Datang di Website SD ISLAM TERPADU ULIL ALBAB BATAM. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SDIT ULIL ALBAB BATAM

NPSN : 11001727

Jl.Tiban Utara No.1 Kel.Patam Lestari Kec. Sekupang Kota Batam Kep.Riau 29427


[email protected]

TLP : 07783553594


          

Prestasi Siswa

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Agenda

20 April 2026
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Statistik


Total Hits : 190366
Pengunjung : 99124
Hari ini : 16
Hits hari ini : 113
Member Online : 0
IP : 216.73.216.142
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

INTERNALISASI NILAI-NILAI KEISLAMAN DALAM KONSEP PEMBELAJARAN MENDALAM




INTERNALISASI NILAI-NILAI KEISLAMAN DALAM KONSEP PEMBELAJARAN MENDALAM DALAM KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH DASAR

 

Kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar, khususnya terkait kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa sekolah dasar. Berdasarkan laporan PISA 2022, sebagian besar peserta didik Indonesia hanya mampu menjawab soal pada tingkat LOTS (Lower Order Thinking Skills). Padahal, abad ke-21 menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kurikulum Merdeka mendorong transformasi pembelajaran melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Tujuan utamanya adalah mewujudkan  Pelajar Indonesia yang memiliki kompetensi utuh: olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik.

 

Pengertian Pembelajaran Mendalam

 

Pembelajaran Mendalam dalam konteks Kurikulum Merdeka didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, dengan melibatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Pendekatan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses konstruksi pengetahuan melalui keterlibatan aktif siswa.

 

Karakteristik utama Pembelajaran Mendalam meliputi:

  1. Berkesadaran : Siswa memahami tujuan belajar, termotivasi secara intrinsik, dan mengatur diri sendiri.  
  2. Bermakna: Materi terkait dengan pengalaman dan kehidupan nyata.
  3. Menggembirakan : suasana belajar positif, interaktif, dan membangun hubungan emosional.

 

Integrasi Pembelajaran Mendalam dengan Nilai-Nilai KeIslaman

 

Dalam perspektif pendidikan Islam, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sejalan dengan tujuan pembentukan insan kamil yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama. Ketiga karakteristik utama (berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan) dapat diinternalisasikan melalui konsep Tadzakur, Tafakur, dan Tasyakur, yang merupakan pilar spiritual dalam pembentukan karakter peserta didik.

 

Berkesadaran (Tadzakur)

Berkesadaran dalam Pembelajaran Mendalam bermakna peserta didik sadar sepenuhnya akan tujuan belajar, terlibat secara aktif, dan mampu meregulasi dirinya. Dalam Islam, ini disebut Tadzakur, yaitu kesadaran diri yang tumbuh dari mengingat, merenungkan, dan menghayati ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (qauliyah) maupun yang terbentang di alam semesta (kauniyah).

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (tadzakkur) bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia enyaksikan." (QS. Qaf [50]: 37)
Hadits Raasaulullah Saw :

Hadits Rasulullah Saw :
Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang berakal ialah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati.” (HR. Tirmidzi, no. 2459)

Guru membimbing siswa untuk mengingat (dzikr) kebesaran Allah melalui materi belajar, menumbuhkan kesadaran diri bahwa ilmu adalah jalan mendekat pada Sang Pencipta, serta membiasakan refleksi diri (muhasabah) dalam setiap proses belajar.

 

Bermakna ( Tafakur )

Bermakna dalam Pembelajaran Mendalam berarti pembelajaran terkait erat dengan pengalaman hidup nyata siswa. Dalam Islam, hal ini selaras dengan konsep Tafakur berpikir mendalam dan kritis untuk memahami hikmah di balik ciptaan Allah, fenomena alam, dan peristiwa kehidupan.


Firman Allah dalam Al-Qur’an:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (yatafakkarun) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
(QS. Ali Imran [3]: 190-191)

Hadits Rasulullah Saw :

"Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang zat Allah." (HR. Thabrani)
Guru mengarahkan siswa untuk menghubungkan materi pelajaran dengan fenomena di sekitar, mendorong siswa untuk menemukan makna, mengaitkan ilmu dengan ibrah (pelajaran hidup), serta menanamkan rasa ingin tahu mendalam.

 

Menggembirakan (Tasyakur)

Menggembirakan atau lebih dalamnya membahagiakan dalam Pembelajaran Mendalam berarti menciptakan suasana belajar yang positif, menyenangkan, dan membangun keterhubungan emosional yang erat. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep Tasyakur, yaitu menumbuhkan rasa syukur atas nikmat ilmu, kemampuan belajar, dan pengalaman belajar itu sendiri.

 

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur (tasyakur), niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7)

 

Hadits Rasulullah Saw.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah baik baginya, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, dia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika tertimpa kesusahan, dia bersabar maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Guru menciptakan lingkungan belajar yang menggembirakan, membangun optimisme, menghargai pencapaian sekecil apapun, serta mengajarkan siswa mengucapkan syukur atas kesempatan belajar yang diberikan Allah.

Dengan mengintegrasikan Konsef Tadzakur, Tafakur, dan Tasyakur, Pembelajaran Mendalam di tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga mendidik hati dan jiwa peserta didik agar menjadi insan berilmu yang bersyukur, berpikir mendalam, dan sadar tujuan hidupnya sebagai khalifah di bumi.

 

Kerangka Pembelajaran Mendalam Berbasis Nilai-Nilai Keislaman di SD

 

Praktik Pedagogis: Menerapkan Tadzakur, Tafakur, dan Tasyakur dalam Model Pembelajaran

 

Model Inkuiri & Proyek: Guru memfasilitasi siswa menggali permasalahan nyata di sekitar (misalnya isu lingkungan, kebersihan sekolah, perilaku sosial), lalu siswa mengamati, menganalisis, hingga mempresentasikan hasilnya dengan pendekatan Tafakur (berpikir mendalam) dan Tadzakur (merenungi hikmah).

Pembelajaran Masalah Nyata: Guru mengaitkan materi dengan ayat Al-Qur’an atau Hadits yang relevan, sehingga siswa memahami bahwa belajar bukan hanya untuk dunia, tetapi juga bekal amal saleh (Tadzakur). Guru memberi ruang kreativitas sesuai minat dan bakat siswa, menumbuhkan rasa syukur (Tasyakur) atas potensi yang Allah karuniakan kepada setiap anak.
Mengaitkan proyek bank sampah dengan nilai Amr Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak menjaga kebersihan, mencegah pencemaran), atau mengaitkan materi IPA dengan ayat tentang alam semesta.


Kemitraan Pembelajaran: Memperkuat Sinergi Spiritual

  1. Melibatkan orang tua untuk mendampingi anak belajar dan berdiskusi tentang hikmah pembelajaran di rumah (Tadzakur).
  2. Menggandeng komunitas lokal atau tokoh agama untuk mengisi materi penguatan nilai (contoh: mendatangkan ustadz untuk membahas adab menjaga lingkungan).
  3. Mengundang praktisi dunia usaha Islami (misalnya bank sampah berbasis masjid) untuk praktik nyata Tasyakur dengan aksi sosial berbasis syukur atas nikmat Allah.
  4. Membangun forum silaturahmi sekolah–komunitas untuk saling berbagi praktik baik Tafakur dan Tadzakur.
    Mitra orang tua membantu anak membuat jurnal syukur setiap pekan. Komunitas masjid mendampingi program kebersihan lingkungan sekolah.

 

Lingkungan Pembelajaran: Menghidupkan Lingkungan Fisik, Virtual, dan Budaya Islami

  1. Ruang Fisik Islami: Kelas dihias kutipan ayat Al-Qur’an dan Hadits motivasi belajar. Lingkungan sekolah dilengkapi sudut refleksi dan doa.
  2. Ruang Virtual Islami: Platform belajar online berisi materi yang memuat konten nilai Islam (misalnya video tafsir ayat terkait tema sains, refleksi adab belajar).
  3. Budaya Kolaboratif Islami: Membiasakan salam, doa bersama sebelum belajar, dan pembiasaan muhasabah (refleksi) di akhir pembelajaran. Contoh Kegiatan: Guru menutup pembelajaran dengan doa syukur (Tasyakur), siswa berbagi pengalaman belajar di forum daring dengan etika Islami.
  4. Pemanfaatan Teknologi Digital: Mendorong Syiar Ilmu dan Nilai
    Merancang video pembelajaran yang memadukan materi tematik dengan ayat/hadits (misalnya video IPA bertema keajaiban ciptaan Allah). Menggunakan platform kolaborasi daring untuk diskusi kelompok Tafakur tentang fenomena alam, sosial, atau isu global. Mengembangkan bank soal digital yang tidak hanya menguji kognisi, tetapi juga menanamkan pesan moral Islami. Memanfaatkan media sosial sekolah untuk berbagi karya siswa: poster digital, vlog syukur nikmat Allah, atau refleksi proyek lingkungan. Siswa membuat video edukasi bertema Syukur Nikmat Air dan mengunggah di kanal kelas daring. Guru memberikan tugas membuat infografis “Ayat Al-Qur’an tentang Lingkungan”.

Dengan 4 elemen di atas, Kerangka Pembelajaran Mendalam tidak hanya mendalam secara kognitif, tetapi juga mendalam secara spiritual. Nilai Tadzakur, Tafakur, dan Tasyakur menjadi napas dari setiap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran, menyiapkan generasi yang cerdas akalnya, bersih hatinya, dan mulia akhlaknya.

 

Strategi Implementasi Pembelajaran Mendalam Berbasis Nilai-Nilai Keislaman di SD


Proyek Kontekstual (Berbasis Tasyakur dan Tadzakur)

 

Siswa kelas 5 SD mengerjakan proyek pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Mereka membuat bank sampah atau ecobrick sebagai bentuk aksi nyata menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Tasyakur: Proyek ini menumbuhkan rasa syukur atas nikmat alam yang Allah berikan, berupa lingkungan bersih dan sehat.

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

 

Tadzakur: Siswa diajak merenungkan (tadzakur) bahwa kebersihan sebagian dari iman dan menjaga bumi adalah amanah manusia sebagai khalifah.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Kebersihan adalah sebagian dari iman." (HR. Muslim)

 

Pembelajaran Inkuiri (Berbasis Tafakur dan Tadzakur)

Siswa mengeksplorasi masalah nyata di sekitar mereka, seperti sampah di sungai, lalu merumuskan pertanyaan: “Bagaimana dampak sampah bagi kehidupan makhluk Allah di air?” Mereka mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, lalu mempresentasikan hasilnya.


Tafakur: Peserta didik diajak berpikir mendalam tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

"... dan mereka memikirkan (yatafakkarun) tentang penciptaan langit dan bumi: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia..." (QS. Ali Imran [3]: 191)

 

Tadzakur: Setelah proses inkuiri, siswa diingatkan untuk mengambil pelajaran dari fenomena di sekitar (tadzakur).

"Orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk setelahnya." (HR. Tirmidzi)

 

Refleksi Reguler (Berbasis Tadzakur dan Tasyakur)

Di akhir pembelajaran, siswa menulis jurnal belajar untuk merefleksi apa yang telah dipelajari, kesulitan yang dihadapi, dan rasa syukur atas pengetahuan baru. Mereka juga melakukan penilaian diri (self-assessment) dan saling memberi umpan balik.

 

Tadzakur: Membiasakan diri merenung dan mengingat (dzikr), serta mengevaluasi diri setiap waktu.

"Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 55)

 

Tasyakur: Jurnal belajar menjadi sarana melatih siswa mensyukuri ilmu dan kesempatan belajar yang Allah titipkan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Daud)

Dengan Proyek Kontekstual, Inkuiri, dan Refleksi Reguler yang berlandaskan Tadzakur, Tafakur, dan Tasyakur, Pembelajaran Mendalam di SD:

• Membentuk peserta didik sadar tujuan belajar (tadzakur).
• Menumbuhkan kebiasaan berpikir mendalam (tafakur).
• Membiasakan rasa syukur dan kebahagiaan belajar (tasyakur).

 

Penelitian terbaru (Misbah et al., 2024; Journal of Education Research) menegaskan bahwa guru SD masih perlu didukung dalam penguasaan desain pembelajaran mendalam dan pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Selain itu, kolaborasi sekolah dengan orang tua terbukti memperkuat ketercapaian pembelajaran bermakna (Rahmawati & Sari, 2023, Indonesian Journal of Primary Education).
Oleh karena itu, keberhasilan Pembelajaran Mendalam sangat bergantung pada ekosistem pendidikan yang kolaboratif: guru sebagai aktivator, orang tua sebagai pendamping, teknologi sebagai enabler, dan komunitas sebagai sumber belajar kontekstual.
Pembelajaran Mendalam di tingkat SD bukan hanya tren pedagogi baru, tetapi strategi menjawab tuntutan Profil Pelajar Pancasila. Melalui proses belajar yang bermakna dan menggembirakan, peserta didik diharapkan tumbuh sebagai insan merdeka belajar mampu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif dalam menghadapi tantangan era global.

 

Daftar Pustaka


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Kemendikbud.
Misbah, M., et al. (2024). Teachers’ Readiness in Implementing Deep Learning Approach in Indonesian Primary Schools. Journal of Education Research.
Rahmawati, Y., & Sari, P. (2023). Collaborative Deep Learning for Elementary School: Strengthening Parents Involvement. Indonesian Journal of Primary Education.

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas