Kritik terhadap Pola Epistemik Guru Gembul dari Perspektif Filsafat Ilmu Islam (Al-Ghazali

Kritik terhadap Pola Epistemik Guru Gembul dari Perspektif Filsafat Ilmu Islam (Al-Ghazali dan Syed M. N. Al-Attas)
Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari iman dan adab. Ilmu bukan sekadar produk rasionalitas atau pengalaman empiris, tetapi amanah spiritual yang harus disampaikan dengan niat yang lurus dan metode yang benar. Oleh karena itu, ketika seseorang berbicara tentang agama apalagi di ruang publik digital seperti Guru Gembul maka ia sedang mengemban tanggung jawab epistemik dan moral sekaligus. Filsafat ilmu Islam yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas memberi kerangka penting untuk mengkritisi dan memahami bagaimana seharusnya ilmu dan kebenaran diperlakukan secara bertanggung jawab.
Epistemologi Al-Ghazali: Kebenaran yang Bersumber dari Cahaya Ilahi
Al-Ghazali (1058–1111 M) dalam Ihya’ Ulumuddin dan Al-Munqidz min al-Dhalal menegaskan bahwa ilmu sejati tidak hanya diperoleh dari indra dan akal, tetapi juga dari cahaya Ilahi (nur ilahi) yang menerangi hati manusia.
Menurutnya, sumber pengetahuan ada tiga:
- Indra (empiris) : menghasilkan pengetahuan praktis.
- Akal (rasional) : menghasilkan pengetahuan rasional-logis.
- Kasyf (intuisi spiritual) : menghasilkan pengetahuan hakiki yang mendekatkan manusia pada Tuhan.
Al-Ghazali mengkritik keras para intelektual yang hanya bergantung pada rasio empiris, karena akal tanpa bimbingan wahyu akan mudah tergelincir.
Ia menulis:
“Akal adalah lentera, tetapi cahaya itu tidak akan menampakkan apa-apa tanpa sinar dari matahari wahyu.”
Dalam konteks Guru Gembul, kritik Al-Ghazali sangat relevan. Ketika ia menilai iman sebagai dogmatis dan tidak ilmiah, berarti ia sedang menempatkan akal sebagai sumber kebenaran tertinggi, dan mengabaikan wahyu sebagai sumber pengetahuan spiritual. Inilah yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai “kesombongan intelektual” (kibr al-‘aql) — ketika manusia mengira akalnya mampu menembus segala realitas tanpa bimbingan Ilahi.
Dengan demikian, pola epistemik Guru Gembul bersifat sekuler dan parsial, karena hanya berpijak pada dimensi empiris-rasional tanpa menimbang nilai-nilai spiritual dan moral yang menjadi inti dari epistemologi Islam.
Epistemologi Syed Muhammad Naquib al-Attas: Ilmu, Adab, dan Kehilangan Makna
Pemikir Islam kontemporer Syed Muhammad Naquib al-Attas (1931–) dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam menjelaskan bahwa krisis pengetahuan modern bukan disebabkan oleh kurangnya data atau logika, tetapi oleh hilangnya adab dan makna dalam ilmu.
Menurut Al-Attas, ilmu sejati harus mengandung tiga unsur utama:
- Kebenaran (haqq) : sesuai dengan realitas yang diciptakan Allah.
- Tujuan (ghayah) : mengarahkan manusia kepada pengenalan dan penghambaan kepada Allah.
- Adab (tanggung jawab moral) : kesadaran posisi manusia sebagai hamba dan khalifah.
Dalam pandangan Al-Attas, kesalahan epistemologis terjadi ketika seseorang menyampaikan pengetahuan tanpa adab, yaitu tanpa kesadaran akan tujuan dan nilai kebenaran sejati. Hal inilah yang terjadi pada banyak influencer keagamaan kontemporer, termasuk Guru Gembul yang berbicara atas nama “logika dan ilmu” tetapi tanpa metodologi dan orientasi spiritual yang jelas.
Akibatnya:
- Ilmu kehilangan makna ilahiah, karena hanya dipahami secara duniawi;
- Rasionalitas menjadi alat pembenaran diri, bukan jalan menuju kebenaran;
- Publik kehilangan pedoman epistemik, karena meniru gaya berpikir tanpa memahami akarnya.
Bagi Al-Attas, kondisi seperti ini disebut sebagai “loss of adab” — hilangnya kesadaran tentang tempat dan fungsi ilmu dalam tatanan kehidupan yang berlandaskan tauhid.
Perbandingan Kritik Al-Ghazali dan Al-Attas terhadap Pola Epistemik Modern
| Aspek | Pandangan Al-Ghazali | Pandangan Al-Attas | Relevansi terhadap Pola Guru Gembul |
|---|---|---|---|
| Sumber Ilmu | Akal, indra, dan wahyu (cahaya Ilahi) | Wahyu dan akal yang terarah pada tauhid | Guru Gembul mengandalkan akal dan data tanpa dimensi wahyu |
| Metode Pengetahuan | Melalui penyucian hati dan refleksi spiritual | Melalui adab dan pengenalan terhadap struktur realitas | Narasi Guru Gembul bersifat retoris, tanpa metodologi spiritual dan adab keilmuan |
| Tujuan Ilmu | Mendekatkan diri kepada Allah | Mengenal kebenaran dan menegakkan tatanan adab | Narasi cenderung berorientasi pada popularitas dan opini publik |
| Bahaya Ilmu Tanpa Iman | Akal menjadi sumber kesesatan | Ilmu kehilangan makna dan arah | Narasi ilmiah yang menyesatkan masyarakat awam |
Sintesis: Epistemologi Islam sebagai Koreksi Terhadap Rasionalitas Populer
Baik Al-Ghazali maupun Al-Attas sepakat bahwa rasionalitas murni tanpa wahyu dan adab akan menimbulkan kekacauan epistemik.
Ilmu tidak boleh dipisahkan dari moral dan iman, sebab keduanya adalah inti dari keutuhan pengetahuan.
Dalam konteks fenomena Guru Gembul, epistemologi Islam memberikan koreksi mendasar:
-
Ilmu harus lahir dari sumber yang benar (wahyu dan akal yang sehat).
-
Ilmu harus disampaikan dengan adab, bukan dengan kesombongan intelektual.
-
Ilmu harus diarahkan untuk meneguhkan iman dan amal, bukan menimbulkan keraguan dan kebingungan.
Epistemologi Islam tidak menolak akal, tetapi menundukkannya di bawah cahaya wahyu. Inilah keseimbangan yang hilang dalam rasionalitas publik dewasa ini — termasuk dalam narasi-narasi populer yang hanya berlandaskan “logika,” tanpa dasar metodologi dan nilai spiritual.
Dari perspektif Al-Ghazali dan Syed Naquib al-Attas, pola berpikir Guru Gembul menunjukkan ketimpangan epistemik: ia menggunakan logika tanpa adab, rasionalitas tanpa nilai, dan pengetahuan tanpa metodologi spiritual.
Padahal dalam Islam, ilmu sejati bukan sekadar knowing the fact, tetapi knowing with the heart pengetahuan yang menuntun kepada pengenalan dan penghambaan kepada Allah.
Dengan demikian, kritik terhadap pola epistemik Guru Gembul bukan semata-mata persoalan perbedaan pendapat, melainkan upaya mengembalikan ilmu pada martabatnya yang hakiki sebagai jalan menuju kebenaran, kebijaksanaan, dan keselamatan.
Referensi :
Ridwan, Ahmad Hasan. (2011). Dasar-dasar Epistemologi Islam. Bandung: Pustaka Setia
Amien, Miska Muhammad. (2006). Epistemologi Islam: Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam. Jakarta: UI-Press.
Khudori Soleh, A. (2018). Epistemologi Islam: Integrasi Agama, Filsafat dan Sains. (Cetakan). — membahas pemikiran al-Farabi dan Ibn Rusyd dalam perspektif Islam.
Syihab, Usman. (2021). Sekitar Epistemologi Islam: Memahami Bangunan Keilmuan dalam Kerangka Worldview Islam. Yogyakarta: Bildung Nusantara.
Sassi, Komaruddin. (2020). “Prinsip-Prinsip Epistemologi Pendidikan Islam Paradigma Tauhid (Analisis Pemikiran Naquib al-Attas)”. Millah: Jurnal Studi Agama, Vol. 20 No. 1, 135-172.
“Epistemologi Ilmu dalam Perspektif Islam” (2013). Artikel: “Epistemologi Ilmu Perspektif al-Qur’an” oleh Afifullah. Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman, Vol. 17 No. 1.
Sucipto, Hendra & Ramadhan, Sayid Ahmad. (2024). “Adab terhadap Ilmu Perspektif Imam al-Ghazali”. Murabbi: Jurnal Pendidikan Islam, [vol & nomor] (naskah pra-terbit).
“Epistemologi Islam – Suara Muhammadiyah”. (2023, 10 Agustus). Artikel online yang menguraikan tentang sumber-sumber epistemologi Islam (Al-Qur’an & Hadits, akal, indra).
Ghofur, Abdul. (n.d.). Konstruksi Epistemologi Pendidikan Islam (Studi atas Pemikiran Kependidikan Prof. H. M. Arifin). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Renungan tentang Kerendahan Hati dan Martabat dalam membangun kesadaran Diri dan kesadaran
- Manusia dalam Perspektif Evolusi dan Penciptaan: Kajian Rasional, Teologis, dan Antropolog
- TEPATKAH UJIAN SUMATIF/SEMESTER BERBASIS SMARTPHONE ?
- Menakar Logika-Logika Guru Gembul dalam Perspektif Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam
- Konsep Feodal dengan Tradisi Pesantren dalam Sikap Menghormati Guru ???
Kembali ke Atas










