Renungan tentang Kerendahan Hati dan Martabat dalam membangun kesadaran Diri dan kesadaran

Renungan tentang Kerendahan Hati dan Martabat dalam membangun kesadaran Diri dan kesadaran Sosial
Dalam perjalanan hidup, manusia bertemu dengan berbagai karakter dan latar belakang: orang yang lebih tua atau lebih muda, yang lebih tinggi maupun lebih rendah jabatan, pendidikan, dan pengalamannya. Di tengah keberagaman itu, terdapat satu sikap luhur yang semakin langka namun sangat penting: kemampuan menempatkan diri dengan tepat.
Banyak orang memilih untuk tidak menempatkan diri lebih tinggi daripada mereka yang secara status jabatan, pendidikan, usia, atau pengalaman sejajar maupun lebih rendah. Sikap ini lahir dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. Dengan bersikap setara, percakapan menjadi lebih hangat, jujur, dan apa adanya. Kerendahan hati semacam ini bukan hanya bentuk tata krama, tetapi juga pilihan batin untuk menjaga hubungan tetap manusiawi.
Berbeda halnya ketika berada di hadapan sosok yang kedudukannya lebih tinggi: senior, guru, orang yang lebih berpengalaman, atau yang lebih matang dalam ilmu kehidupan. Di hadapan mereka, wajar jika seseorang menunjukkan rasa hormat dan menempatkan diri sebagai pembelajar yang siap menerima petuah. Menghormati mereka yang lebih berilmu bukan merupakan kelemahan, melainkan tanda kebijaksanaan. Pertumbuhan sering dimulai dari kemampuan untuk mendengarkan.
Sikap seperti ini selaras dengan nilai luhur budaya Indonesia: andhap asor kepada yang sederajat atau lebih rendah, serta ajining diri ketika berhadapan dengan mereka yang lebih tinggi. Keduanya menciptakan keseimbangan batin—rendah hati tanpa kehilangan wibawa, hormat tanpa kehilangan jati diri.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan harmonis. Ada kalanya seseorang berhadapan dengan individu yang secara status sama atau bahkan lebih rendah, tetapi menunjukkan perilaku seolah dirinya lebih tinggi. Sikap meremehkan atau keangkuhan yang tidak pada tempatnya sering menimbulkan ketidaknyamanan dan kegelisahan batin.
Fenomena ini terjadi karena kesantunan sering kali tidak dibalas dengan kesantunan. Kerendahan hati justru dianggap sebagai ruang bagi sebagian orang untuk menonjolkan diri. Padahal, kerendahan hati bukan bentuk pengakuan bahwa diri lebih rendah melainkan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan.
Penting disadari bahwa keangkuhan sering kali bukan cerminan kehebatan, melainkan penutup bagi ketidakpastian dan kekurangan yang tidak ingin terlihat. Dengan memahami hal ini, seseorang dapat tetap tenang tanpa harus terlibat dalam adu gengsi atau persaingan tidak sehat.
Ketegasan lembut kadang diperlukan: menetapkan batas, menegaskan bahwa setiap interaksi harus dilandasi saling menghormati. Kerendahan hati tetap dapat dipertahankan tanpa mengorbankan martabat.
Pada akhirnya, perjalanan moral ini merumuskan sebuah prinsip kehidupan:
Kepada yang lebih tinggi, bukalah diri untuk belajar.
Kepada yang sejajar atau lebih rendah, rendahkanlah hati agar tetap manusiawi.
Dan kepada siapa pun yang angkuh, jagalah martabat tanpa kehilangan ketenangan.
Inilah seni menempatkan diri—pelajaran yang terus menempa dan memperhalus jiwa. Sebab kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh caranya memperlakukan orang lain.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Manusia dalam Perspektif Evolusi dan Penciptaan: Kajian Rasional, Teologis, dan Antropolog
- TEPATKAH UJIAN SUMATIF/SEMESTER BERBASIS SMARTPHONE ?
- Kritik terhadap Pola Epistemik Guru Gembul dari Perspektif Filsafat Ilmu Islam (Al-Ghazali
- Menakar Logika-Logika Guru Gembul dalam Perspektif Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam
- Konsep Feodal dengan Tradisi Pesantren dalam Sikap Menghormati Guru ???
Kembali ke Atas










